ketika api membakar daun



Padang, 10 agustus 2015
Kamar Kos Frozen, 18:52


Pagi itu Senin, 10 Agustus 2015. Aku siap dengan pakaian rapiku menuju BANK BRI Limau Manis. Niat ku mencek penerima nama-nama beasiswa PPA. Tak ayal, semangat membarapun menggerogoti jiwa yang telah beberapa hari sendiri mengurung diri di kamar kos. Aku panaskan mesin motor ku, agar mudah jalan ku nanti. Ini pertama kalinya aku membawa motor ku sendiri di Negri yang mengajarkan ku tentang kemandirian. Yaah … tahun 3 di semester  5 kuliah ku, aku memutuskan untuk membawa kendaraan pribadi, agar mudah semua urusanku.
“Mendung”, bisik batinku.
Tapi tak membuat patah semangatku menuju BANK BRI tersebut. Aku mulai menggas motorku, berjalan perlahan, membelah pagi yang dingin. 5 menit mengendarai motor, aku sampai ditempat tujuan ku, aku bertemu dengan seorang teman ku, “Andin” biasa ku sebut. Ternyata niatnya juga sama dengan ku, "Mencek Beasiswa". Kamipun menunggu antrian, satu persatu nama mulai tersebut, sampai satu nama yang tak asing kupingku mendengar  “Andini Hariningtyas”, yaah, temanku Andin menuju teller Bank. Hasilnya. Namanya Ada sebagai penerima Beasiswa dari UKM Aiesec, Jantungku mulai berdebar tak karuan, padahal sudah semalaman aku mendamaikan hatiku untuk hal paling buruk yang mungkin akan terjadi, aahh … sudahlah, biarkan ia berdebar sesukanya !!
10 menit sudah aku menunggu dan nama ku belum juga terpanggil, 13 menit, 15 menit, 17 menit, “Nafkhatul Wahidah”, sebut seorang bapak yang berasal dari arah belakangku, sontak kepalaku menoleh ke arah suara.
“Sebelumnya, udah ada pengumuman belum dek, dari fakultas sendiri mengenai beasiswa ini?” Tanya bapak yang memanggil namaku tadi.
“Ngak ada pak”, jawab ku lesu. Firasat, tiba-tiba pikiran burukpun  melayang-layanng dibenak ku.
“Namanya ngak ada ini dek, coba deh kamu kesini”, aku pun berjalan cepat menuju computer bapak tersebut.
Tangan bapak itu mulai menari-nari diatas keyboard nya, mengetik “NAFKHATUL WAHIDAH, 1310321017” Enter  !! Vailed !!
“Ya Tuhan, apakah ini benar benar terjadi? Ini pasti kesalahan”, ucap batinku yakin.
“Ngak ada kan dek?” Tanya bapak itu menyadarkanku.
“Ah iya pak”, jawab ku layu.
“Sekarang gini aja dek, coba adek cek namanya lagi di UKM. Tanya, manatau memang ada kesalahan teknis”.
“Iya pak, makasih ya pak”, jawabku pasrah.
Secepatnya aku berjalan keluar ingin mengenderai motorku dengan kecepatan tinggi.
“Iya ini kesalahan, tenang nova, tenang”, begitu lah batinku setipa kali berucap sepanjang jalan.
Sesampai disana (UKM) temanku Andin, menanyakan mengenai nama-nama penerima beasiswa PPA ini, aah lagi-lagi pegawai nya menyuruh kami untuk bertanya ke dekanat fakultas.
“Jati !!”, bisik hatiku kencang.
Tak pikir panjang, aku langsung menuju dekanat jati. Menemui bagian yang menangani penerimaan beasiswa ini,
“Permisi pak, saya dari fakultas Psikologi, mau nanya informasi mengenai beasiswa PPA pak.” Ucapku lantang
“ooo beasiswa PPA ya dek ? sampai saat ini kami belum menerima nama-nama dari penerima beasiswa ini dek, soalnya dari fakultas kedokteran sendiri itu SK nya belum keluar, jadi nama-nama penerimanya pun juga belum keluar dek, tunggu aja dulu informasinya”.
“Haaah selamat !! ,” teriak batinku, itu berarti harapan pun masih ada.
Setidaknya harapan ku masih ada, setidaknya mimpiku ke Jogja tahun ini masih bisa ku genggam.
Waktupun terus berlalu, aku berencana menghabiskan waktuku dikampus hari itu, sekitaran pukul 3, setelah rapat HIMA terlaksana, nama-nama penerima beasiswapun keluar satu persatu. Satu satu mataku meplototi semua nama yang ada di layar HP temanku, tapi tak satupun aku temukan rangkaian huruf namaku.
“Tidak, pasti ada kesalahan, ya mungkin ada beberapa nama lagi yang masih belum di post”, begitu kerasnya hatiku berbisik akan keyakinan palsu yang aku buat sendiri.
“Coba liat lagi din, manatau kita yang salah liat, atau ada dikertas selanjutnya ?”, ucapku tak terima pada seorang teman.
Terus aku baca nama-nama itu satu persatu. Dan akhirnya pikiranku mulai melakukan sinkronisasi dengan batinku, yah .. aku menerima kenyataan yang ada sekarang.
Kenyataan bahwa tahun ini aku tak menerima beasiswa. Kenyataan bahwa mimpiku Kunjungan Kerja ke Universitas Gajah Mada, Jogja tahun ini berhasil batal. Mimpiku menguap. Seperti api yang membakar dedaunan. Biarlah ... Tak apa .... biarkan habis hancur menjadi debu !!!
“Sudahlah aku menyerah, mungkin belum rezekiku”, bisikku pelan.
Ada hati yang benar-benar sesak seketika. Ada rasa yang tinggal tuannya pergi. AAAh entahlah, rasanya aku benar-benar melepas pergi semua mimpiku tahunku ini.
Diperjalanan pulang, batinku berbisik,” Tak apa, mungkin ini cara Tuhan mengajarkan aku untuk lebih menghargai rezeki, untuk bisa berbagi lagi dengan sesama, mungkin ini juga cara Tuhan mengajarkanku bahwa rezeki tidak melulu soal materi.”
Tentang mimpiku ?
Aah sudahlah, aku mempunyai Allah yang jauh lebih besar dari mimpiku, ketika setiap mimpi digantungkan padaNya, maka ketetapanpun juga ada padaNya, maka ikhlas lah untuk setiap kehendakNya. Mungkin memang belum saatnya, mungkin Tuhan menyuruhku, mencintai apa yang aku miliki dan sadarilah bahwa tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki, lebih bersyukur dengan semua yang telah aku miliki sampai detik ini, aku yakin, skenario Allah begitu sempurna jika kita mau sedikit saja bersabar akan ketetapanNya, percayalah semua akan indah pada waktunya. Termasuk mimpiku yang coba aku lepas secara perlahan karna Nya. :)


Komentar

  1. Opaaa u.u Semangaaat opa!! Ada rencana lain yang Allah siapin buat opa:" Semangaaat terus ya opaaaa({})

    BalasHapus
  2. mmmmmm olaaaak ({}) iyaa lak :")
    jangan lupa oleh-oleh buat opa yaw

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

1/4 Memori YOUTEX

I'M PSYCHOLOGIST NOT FORTUNE TELLER

Ayah