IKHLAS :)
Selasa, 13 Oktober 2015
Hari ini Tuhan mengajarkanku pada
sebuah kata. Sebuah kata yang begitu mudah diucap, namun tak sembarang
hati mampu meresapinya. Sebuah kata yang
bahkan ada dalam kitab Suci Al-qur’an. Sebuah kata yang mampu membuat ku menunddukkan
kepala dan berkata “Ya … Aku Ikhlas!!!”
Selasa,13
Oktober 2015. Mata yang dipejamkan lebih dari 5 jam ini akhirnya terbuka juga.
Yap, Pagi ini Allah masih izinkan aku menghirup setiap hembusan oksigennya. Itu
berarti Allah masih beri kesempatan untuk terus berlari mendekatiNya. Seperti
biasa pagi itu aku mulai setiap rutinitas ku. Hari ini tak ada kuliah, schedule penting hari ini adalah Fungsional Fair, sebuah acara yang
memperkenalkan semua klub yang ada di Psikologi, terutama pada mahasiswa baru.
Tak lupa pula, kami dari Departemen Kesma (Kesejahteraan Mahasiswa) ikut andil
dalam memeriahkan acara ini. Salah satu Program kerja kami “Luqotah” (barang temuan) coba kami sosialisasikan pada semua orang
yang mengunjungi stand kami. Di stand ini ada banyak barang temuan yang
masih tak dijemput tuannya. Barang-barang ini dibiarkan begitu saja
terbengkalai dalam kotak luqotah.
Bukan berarti kami tak menjaga barang-barang luqotah ini, namun penjagaannya tak akan sebaik pemilik barang itu
sendiri.
“10.00 WiIB, aah 30 menit harus siap
otw nih” teriak batinku.
Akupun langsung menuju kamar mandi,
dan semuanya memang siap aku kerjakan dalam waktu 30 menit. Menyiapkan pakaian,
mandi, makan dan segala tetek bengek lainnya yang aku lakukan.
“Ting” nada hp ku berbunyi yang
meandakan line masuk, namun aku tak
ambil pusing akan itu. “ah palingan grup”, ucapku santai.
“Ting” sekali lagi nada pemberitahuan
itu berbunyi.
Sekali, dua kali, sampai
pemeberitahuan ke 5. Kali ini aku mulai mengambil hp ku. Membuka aplikasi line dan ternyata 56 pesan yang belum di
buka. Dari sekian banyak chat yang
belum dibuka, tiba tiba ada satu nama yang menarik perhatianku. Tangan ku
menyentuh nama itu, lalu “Kakak udah dimana kak ? meja buat stand kita udah siap kak? Kakak ke
kampus dong kak, kan acara bentar lagi mulai kak”
“iya dek, ini lagi mau otw, wait”,
balasku singkat.
Sebelum pergi, aku selalu melakukan
ritual kunoku, mematikan semua lampu, mematikan kontak listrik, mengecek semua
ruang kamar, terakhir baru mengunci pintu. Entahlah, ini benar-benar telah
menjadi kebiasaanku.
“Bismillah” lirih batinku.
Akupun mulai mengayunkan langkah demi
langkah, sampai akhirnya aku menuruni tiap tangga yang tersusun rapi menuju
lantai 1. Aku siap dengan semua peralatanku, helm, sarung tangan, dan masker. Aku siap menjalani hari ini, dan
aku siap menunaikan tugasku.
“Astaghfurillah!!! Astaghfurillah!!! Astaghfurillah!!!”
“Ngak ngak mungkin!!!”, ucap batinku
setengah teriak.
Mata ku mulai menyisir setiap jajaran
motor yang terparkir rapi didalam kost ku.
“Astaghfurillah!!! Allah”, aku tak menemukan motorku.
“Tidak mungkin, ooo tidak tidak,
mungkin motorku di luar”, dengan setengah berlari, aku menuju bagian mulut
pintu keluar, kembali mataku menyisir setiap motor yang terparkir di luar.
Lagi-lagi nihil. Aku tak menemukan motorku.
“Ah tidak mungkin”, ucapku terus
meyakinkan. Kini aku serasa tak menginjak tanah lagi, aku mulai merasakan
perubahan fisiologis dalam tubuhku, perlahan rasa pusing mulai menyergapku, aku
gemetaran, sungguh aku tak mampu menahan denyut jantung ku yang semakin tak
karuan.
Tanpa aba-aba pun, aku langsung
menuju salah satu kamar yang pintunya terbuka sedari tadi.
“Kak motor Nova ngak ada kak, tolong
kak, nova pusing.” Spontan aku berkata pada orang yang ada dalam kamar yang memang
lampunya mati.
“Ha ? serius va ? jangan becanda ah”,
kakak itu menjawab.
“iya kak ngak ada, serius!!!”
Entahlah …
Jangan tanya apa yang aku rasakan.
Jangan tanyakan bagaimana rasanya dan jangan tanyakan apa yang aku fikirkan.
Seketika itu aku merasakan pikiranku melayang-layang entah kemana, seketika aku
merasakan tubuhku ringan melayang-layang. Tubuhku bergetar semakin hebat. Ada
rasa sesak yang amat kuat aku rasakan. Aku terus mengucap lirih “Astagfirullah… Astagfirullah …
Astagfirullah …”.
“Mana yang Kehilangan motor?!, kan
saya sudah bilang sama kalian semua. Kalian itu terlalu teledor ! kalau sudah
begini siapa yang bertanggung jawab? Kecuali memang pintu masuk ini memang
rusak, iya !! saya yang akan tanggung jawab!!”, suara teriakan itu kembali membuatku
sadar, bahwa bapak kos sudah berada di kos, dan semua berkumpul mengelilingi
diri yang masih setengah sadar ini.
3 jam mendengar ceramah panjang lebar
yang tak ada solusinya, cukup membuat aku geram seketika.
“Lalu sekarang solusinya apa pak?” entah
kekuatan apa yang membuatku mampu membuat suara selantang itu.
“Saya mau lapor polisi aja sekarang
pak !!”, tambahku lagi tak terima.
Setelah semua orang bubar, setelah
semua kembali dan si bapak kos itu pulang tak meninggalkan jejak, aku langsung
menuju kantor polisi. Surat laporan kehilangan pun telah dibuat. Dan kini hanya
surat itu yang membuat ku selalu berharap akan rezeki yang telah dibagi rata
oleh PemilikNya.
Kini …
Aku benar-benar baru menyadari bahwa
motorku hilang !!
Kerja keras kedua orang tuaku selama 5 tahun, terbuang
sia-sia seketika itu juga, akibat kecerobohan ku sendiri.
Kini …
Aku tau bagaimana rasanya Ikhlas.
Sakit, sesak, tak terima. Itulah perasaan awal yang aku rasakan. Namun ada
beberapa saraf yang bekerja di otakku terus mensugesti diriku, bahwa pada
hakikatnya tak ada yang menjadi hak milik kita, bahkan diri kita sendiri. “Innalillahi Wainnaillihi Rooji’un” semua
datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Yahh… ikhlas itu seperti surat
al-Ikhlas, yang tak ada kata ikhlasnya. Ikhlas itu ketika kita mampu melepaskan
dan tak pernah menyebut kata ikhlas. Ikhlas itu ketika kita ridho untuk setiap
qodar Nya entah itu Qodar baik ataupun qodar buruk. Ikhlas itu ketika kita
berharap namun hanya kepadaNya. Ikhlas itu ketika kita mampu berserah diri
kepadaNya.
Ya Tuhan …
Trimakasih untuk pelajaran hebat ini.
Terimaksih untuk setiap rentetan cobaan di tahun 2015 ini. Trimakasih untuk
Selasa, 13 Oktober 2015 ini. Entahlah, entah scenario seperti apa yang tengah
engkau siapkan untuk hambaMu yang lalai ini. Namun satu hal yang selalu membuat
ku yakin, bahwa scenario Mu lebih indah dari yang ku bayangkan. Bahwa ketika
engkau mengambil sesuatu, maka akan engkau ganti dengan yang lebih baik. Allohu’alam bIsthawwab. :”)
Semoga ALLAH kuatkan aku untuk
hari-hari kedepannya yang aku tak tau bagaimana nantinya. Semoga Allah
lapangkan dan beri jalan keluar untukku bagi setiap perkaraku yang membuatku
sedih baik urusan dunia maupun akhirat. Entahlahlah …..
Ini hidupMu … kupasrahkan kemana Kau
akan membawaku. Karna aku yakin Allah tau yang terbaik. :)
Komentar
Posting Komentar