Postingan

Nasehat 8

  Aku pikir setelah menikah aku akan jauh lebih mandiri dan tidak lagi merepotkan Ibu Aku pun juga membayangkan akan seperti Ibu setelah menikah nanti, karna dari dulu jika sudah berumah tangga aku ingin seperti Ibu Mandiri, cekatan, dan menjadi tempat berpulang semua orang-orang di rumah   Nyatanya, aku tetap saja dibantu banyak hal oleh ibu, semua hal yang terjadi tetap saja membuat ku tak sabar menceritakannya pada ibu.   “Udah ya, sekarang kalo ada kendala atau   kesulitan bilangnya sama uda ya, kita bareng-bareng ngadepinnya, uda itu yang harus melindungi kamu, tanggung jawab uda seutuhnya tetang kamu, tentang kita sayang, kita jangan terlalu merepotkan ibu lagi ya”, cara uda terus menasehati ku.   Maka mulai hari itu sebisa mungkin aku tak merepotkan ibu, ayah Membuat semua terlihat lebih sederhana di depan ibu dan ayah   Tapi…. Nyatanya kondisi ku yang harus bed rest total dan kondisi yang harus membuat LDM dengan pak suami ...

Rumah Untuk Diri Sendiri

  Akhir Juni di pertengahan tahun ini :") Mungkin tidak sekaget dulu, sekaget pada saat pemerintah menghentikan segala aktivitas dan semua aktivitas dilakukan di rumah Satu tahun lebih kondisi COVID ini, naik turun kasus yang kita dengar di berita, akhirnya memaksa kita untuk tetap “Harus” masih berada di rumah. Lalu gimana caranya betah di rumah yang mungkin kita ga tau sampai kapan kondisi akan berubah ? Hemm ... Tapi bagi ku dimana pun kita berada, di kondisi sesempit dan seterpaksa apapun mau itu di rumah, di luar rumah, mau itu jalan, di pinggir jalan, di tengah jalan raya, mau di negeri sendiri atau di negeri orang, Betah itu bisa diciptakan :) Ya karna satu-satunya cara cuma dengan belajar untuk nyaman dengan diri sendiri Rumahin dulu diri sendiri Kalau sama diri sendiri aja kita ga betah, ga nyaman, bingung mau ngapain lagi Ya gimana :(  Di coba ya pelan-pelan Coba untuk berdamai dengan diri sendiri Supaya di saat saat kayak gini, ketika kita dipaks...

Semoga

Gambar
  -19 Januari 2021- Aku rasa langkah ku di Tanah Jawa belum usai, meski ini adalah kepulangan ku seutuhnya ke Tanah Sumatera.  Bandara CGK Jakarta cukup sepi, mungkin karna masih pagi orangpun enggan untuk pergi Ini cerita perjalanan ku di Tanah Jawa, tanah rantau yang mengajarkan banyak hal, membuat diri menjadi pribadi baru Semoga tak merasa puas, kemudian jumawa akan diri sendiri Oke cukup untuk prolog kali ini, hehehe  Ini adalah hari kepulangan ku setelah hampir kurang lebih 2,5 tahun menjalani studi di Yogayakarta, “Kota berhati nyaman”, kata orang-orang. Kondisi pandemi yang masih terus bertahan, angka kematian yang terus meningkat karena COVID-19, serta jumlah orang yang semakin banyak terinfeksi virus ini akhirnya membuat proses pembelajaran daring terus berlanjut sampai saat ini. Rasanya, Jogja bagi ku banyak yang hilang dan berkurang . Kampus yang tidak dibuka sehingga diskusi hangat secara langsung bersama dosen pun tidak dirasakan lagi, lebih ...

Kata Ayah ....

 Ayah berpesan katanya ...  "Dipersilahkan kepada orang yang mencintai mu untuk langsung bertamu ke rumah"  Kenapa, Yah ?  "Karena, laki-laki kesungguhannya dalam mencintaimu selalu dilihat dari sini. Tak ada main belakang atau umpat-umpatan. Mencintai berarti berjuang, menginginkan mu mari berhadapan"

Tempat Berpulang

 Mengatakan sebuah kebohongan pada orang lain itu sungguh tidak mengenakkan  pun mengatakan "Aku baik-baik saja" di depan semua orang juga lama-lama semakin menyiksa  Pada hari itu, aku belajar mengukir senyum di depan semua orang yang kutemui padahal ada benang kusut yang berkelidan di dalam kepala   "Mengapa hidup ini harus berkawan dengan resah ?" Tanya itu terus saja hadir dan tak mudah bagi ku untuk menemukan jawabannya. Bagai bola yang terlempar memantul-memantul, namun menyembunyikan suaranya, menjalar ke jantung berdegup lebih cepat, membuat napas ku tesengal lebih cepat dan tentunya tangis ku pun sering terisak. Namun, untuk orang-orang sekitarku, aku tengah rapat menyimpan semuanya sendirian. Awalnya nyaman, lama-lama aku tertekan.  Tapi, semoga ini menjadi jalanku untuk menjemput pertolongan-Nya; Dia, tempat pulang siapapun yang dikunjungi resah diam-diam.   Lalu aku kembali bertanya pada diri sendiri  Apa yang meresahkanku mungkin...

SISI LANGIT YANG BERBEDA

Gambar
 

Kemana Saja Selama Ini?

  Hari itu aku bersemangat sekali mengajak motor plat BA yang berdomisili di kota AB menuju rumah LQA (Learning Qur’an for All) . Hari itu cukup menjadi momen penting bagiku. Setelah mengukuti kelas Tahsin 2 di program LQA selama hampir 9   minggu, sekarang saatnya penentuan.   “Ujian Tahsin 2 untuk maju ke kelas Tallaqi ”. LQA ini sendiri merupakan salah satu program memperbaiki bacaan Al-Quran yang ada di kota Yogyakarta. Ada 4 tingkatan yang harus diselesaikan sehingga peserta bisa mendapatkan sertifikatnya, mulai dari Tahsin 1, Tahsin 2, Tallaqi terakhir Tahfidz. Untuk naik ditiap tingkatnya, para peserta harus mengikuti ujian terlebih dahulu setelah hampir 10 minggu belajar bersama ustadz dan ustazah disana. Sebagai seorang yang dari dulu tinggal di Sumatera Barat, tepatnya Kabupaten 50 Kota, aku tidak terlalu mendapatkan ilmu yang sedetail sekarang ini saat belajar mengaji. Masa belajar Al-Quran ku banyak dihabiskan di TPA, sebuah lembaga atau kelompok masy...